Daddy: Bandara Kertajati Mati Suri

oleh -19 views
ILUSTRASI. Terminal Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati
ILUSTRASI. Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati

KOTA ANGIN – Sudah dibangun, namun tidak berfungsi maksimal. Itulah gambaran keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Kabupaten Majalengka. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Daddy Rohanady menyesalkan kondisi tersebut.

Menurutnya, situasi BIJB Kertajati saat ini disebabkan oleh kebijakan yang melarang beroperasi sejak pandemi Covid-19. Ironisnya,  kenapa justru Pelabuhan Patimban Tahap I malah beroperasi.

“Kontradiktif, Patimban dioperasionalkan, tetapi BIJB Kertajati justru tutup,” tuturnya, dalam pesan rilisnya, Selasa (12/1).

Selain pandemi covid-19, lanjut dia, dengan berbagai pertimbangan, Pemerintah Pusat memindahkan operasional maskapai dari dan ke Jabar ke Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. “Akibatnya, BIJB Kertajati seolah-olah mati suri,” imbuhnya.

Menurutnya, penutupan BIJB Kertajati ini konon kabarnya hanya sementara. Namun, yang ia pertanyakan, sampai kapan penutupan tersebut berlangsung. Secara keseluruhan, pembangunan bandara tersebut telah menelan APBD Jawa Barat sekitar Rp 6 triliun lebih, namun dibiarkan terbengkalai.

“Ada masalah serius dengan Jawa Barat, karena Jawa Barat memiliki aset yang sangat besar di sektor ini,” tukasnya.

Selain itu, Daddy pun mempertanyakan bagaimana dengan aset yang ada, pembebasan lahan sudah 1.040 hektar dari rencana 1.800 hektar. “Bagaimana kelanjutan aerocity Kertajati?,” tanya dia.

Apabila melihat peluang yang ada, kata politisi Partai Gerindra ini, jumlah penumpang yang akan menggunakan bandara tersebut pasti sangatlah banyak.

“Jumlah penduduk jabar hampir 20 persen dari total penduduk nasional. Jadi, setiap tahun minimal ada tiga sampai empat kelompok penumpang potensial. Jumlahnya juga tidak sedikit,” tegasnya.

Berdasarkan informasi, Patimban adalah pelabuhan yang terletak Kabupaten Subang. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menjadikannya sebagai salah satu proyek prioritas. Pelabuhan ini dikategorikan sebagai pelabuhan utama pendukung kegiatan ekspor dan impor.

“Pengoperasian Patimban pasti akan mendongkrak dana bagi hasil pajak, baik untuk Subang maupun Jawa Barat. Hal itu dikarenakan, pajak ekspor akan diberikan kepada kabupaten dan provinsi tempat barang naik kapal untuk diekspor,” katanya.

Daddy menjelaskan, luas Pelabuhan Patimban direncanakan 356,23 hektar. Pembangunannya secara keseluruhan akan menelan biaya sebesar Rp 43,22 triliun. Sumbernya adalah utang dari Jepang plus APBN dan BUMN.

Semula, pembangunannya dibagi menjadi tiga tahap. Tahap I 2017-2019, Tahap II 2019-2026, dan Tahap II 2026-2036. Adapun kapasitasnya 7,5 juta teus dan 600.000 CBU (2036).

“Di sisi lain kondisi berbeda terjadi dengan BIJB Kertajati. Bandara Internasional yang di-setting sebagai bandara kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut justru ditutup,” pungkasnya. (sam/rls/radar cirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *